Rabu, 09 Desember 2015

DONGENG MALIN KUNDANG

Di sebuah desa terpencil di Sumatera Barat tepatnya berada di Pantai Air Manis, di Padang Selatan, hiduplah sebuah keluarga yang miskin, terdiri dari seorang ibu dan seorang anak laki-laki bernama Malin Kundang. Sang ibu harus lebih bekerja keras tiap hari untuk menghidupi anaknya karena ayahnya pergi meninggalkan mereka.

Malin Kundang ini seorang anak yang pintar namun ia sedikit nakal. Setiap hari ia membantu ibunnya mencari kayu bakar, setelahnya Malin dewasa, ia merasa kasihan pada ibunya iapun berkeinginan untuk pergi mencari pekerjaan ke kota Besar.

Karena keinginannya itu, Malin Kundang meminta ijin pada ibunya:

“Bu, saya ingin pergi dan bekerja ke Kota supaya bisa membantu ibu”. Pintanya

“Ibu hanya punya kamu disini, jangan tinggalkan ibu sendiri, nak.” Ibunya menolak

“saya kasihan melihat ibu terus bekerja keras mengurusku, izinkanlah saya pergi bu.” Pintanya lagi

“Baiklah, tapi nak, kamu harus ingat sama ibu ya, jangan pernah melupakan ibu dan desa ini ketika kamu suatu saat nanti sudah sukses di sana.” Pinta ibu sambil berlinang air matanya.

Tak sampai berhari-hari setelah perijinannya tersebut kepada ibunya, pagi harinyapun ia langsung berangkat ke Kota dengan menggunakan kapal. Setelah beberapa tahun kemudian, iapun meraih sukses di perantauannya dengan menjadi orang kaya dan memiliki kapal dagang yang banyak. Tak hanya itu, iapun sudah memiliki seorang istri yang cantik yang merupakan anak dari pemilik kapal-kapal tersebut.

Berita tentang Malin Kundang yang sudah meraih sukses disana sudah diketahui oleh ibunya, dan sang ibupun begitu senang ketika mendengarnya. Setiap hari ia selalu menunggu kepulangan anaknya tersebut dan mengangkat derajat ibunya, namun anak satu-satunya itu tak kunjung datang juga.

Suatu hari istri Malin yang sangat dicintainya itu bertanya mengenai ibu mertuanya dan ingin bertemu beliau, Malinpun tak mau mengecewakan istrinya itu dan akhirnya Malin menyiapkan perjalanan menuju ke desa tempat kelahirannya itu dengan kapal pribadi miliknya yang sangat bagus. Ketika mereka sampai di desanya tersebut, terdengar oleh ibunya bahwa anak kesayangannya itu telah sampai di desa dan sang ibunya sangat bergembira bahkan pergi ke pantai untuk melihat si Malin.

Ketika ibu Malin sampai di pantai, beliau langsung bertanya:

“Apakah ini anakku, Malin? Ini Ibu nak, apa kamu masih ingat?” Tanya ibu

“Mengapa kau pergi begitu lama anakku, dan tanpa ada mengirim kabar?” ibunya bertanya lagi sambil memeluk Malin.

Istri Malin sangat terkejut ketika melihat wanita tua, renta, bau, dan dekil itu memeluk suaminya dan berkata:

“Jadi wanita tua yang dekil dan bau ini ibumu, Malin?”

Karena Malin malu, dengan segera ia melepaskan pelukan ibunya itu sambil berkata:

“Dasar wanita miskin, saya tidak kenal kamu” Ucapnya membentak

Mendengar perkataan anaknya tersebut, si ibu menjadi sedih dan juga marah karena beliau tak menduga kalau anaknya menjadi durhaka. Ibu Malinpun murka dan meminta doa kepada sang maha kuasa.

“Tuhan, jika ia benar anakku, aku mohon, berilah ia azab dan rubahlah ia menjadi batu.”

Tak lama setelahnya ibu Malin berdoa, petir dan anginpun menghantam kapal Malin kundang dan menghancurkannya. Tak lama setelah itu malinpun menjadi kaku lalu jadilah ia sebuah batu yang menyatu dengan karang.

Dari cerita di atas dapat diambil pesan moral bahwa : Orang yang harus kita taati setelah tuhan adalah kedua orang tua kita, maka janganlah sesekali kita berbuat hal yang dapat membuat mereka murka, dan juga harus ingat bahwa, kebaikan tuhan tergantung pada kebaikan kedua orang tua, dan murka Tuhan tergantung murkanya kedua orang tua, maka jagalah hati mereka jangan sampai kita menyakiti dan melukainya.

Semoga kisah ini menjadikan kita seorang anak yang benar-benar taat dan patuh kepada kedua orang tua. 

DONGENG BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH

Pada zaman dahulu tingallah sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis cantik bernama Bawang Putih. Mereka hidup bahagia meskipun sang ayah hanya seorang pedagang biasa. Sutau hari si ibu terserang penyakit hingga ia meninggal dunia. Bawang Putih dan ayahnyapun sangat berduka.

Di desa tempat Bawang Putih tinggal, juga tinggal seorang janda dan  anak perempuannya yang bernama Bawang Merah. Sejak ibu Bawang Putih meninggal, mereka selalu dtang mengunjungi rumah Bawang Putih, baik itu hanya sekedar ngobrol maupun memberikan makanan. Semenjak itu, sang Ayah menganggap bahwa jika ia menikahi janda itu, Bawang Putih tidak akan kesepian lagi. Tak lama berselang, menikahlah mereka. Awalnya si ibu tiri dan Bawang merah sangat baik kepada Bawang putih, namun lama-kelamaan mereka sering memarahi Bawang Putih dan mempekerjakannya di rumah jika ayahnya sedang pergi.

Semua pekerjaan rumah di kerjakan oleh Bawang Putih, sedangkan ibu tiri dan kakak tirinya hanya duduk bersantai. Bawang Putih tidak pernah mneceritakannya kepada ayahnya tentang semua itu.

Suatu ketika, ayah Bawang putih sakit hingga ia meninggal dunia. Sejak itulah ibu dan kakak tirinya Bawang Putih semkain berkuasa dan semakin semena-mena kepada Bawang Putih. Setiap hari Bawang Putih selalu bangun subuh mulai dari membuatkan air panas untuk mandi, sarapan, memberi makan makan ternak, mencuci baju ke sungai, menyiram kebun, menyetrika, membereskan rumah dan masih banyak lagi pekerjaan lainnya. Semua itu ia lakukan dengan gembira karena ia berharap suatu saat ia dapat dicintai oleh ibunya.

Suatu pagi seperti biasa ia melakukan setumpuk pekerjaan, hingga akhirnya ia pergi ke sungai untuk mencuci baju. Dengan tanpa ia sadari ternyata salah satu bajunya itu hanyut yang ternyata baju yang hanyut itu merupakan baju kesayangan ibu tirinya. Dengan segera Bawang Putih menyusuri sungai untuk mencari bajunya. Namun setelah cukup jauh ia berjalan akhirnya ia putuskan untuk pulang dengan penuh keputusasaan dan menceritakan kepada ibu tirinya.

“Dasar Ceroboh ! Aku tidak mau tahu pokoknya kamu harus membawakanku baju itu ! Jangan pernah kau kembali pulang tanpa membawa baju itu, mengerti ?”. Ucap ibu tirinya.

Akhirnya Bawang Putih pergi menuruti keinginan ibunya, ia dengan teliti menelusuri setiap sudut sungai. Namun ia belum juga menemukan baju itu padahal matahari sudah mulai meninggi. Setelah matahari condong ke barat, ia melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya dan diapun bertanya.

“Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju yang berwarna merah hanyut di sungai ini?, saya harus menemukannya dan membawanya pulang”. Ucap Bawang Putih

“iya nak, tadi saya melihatnya. Kalau kamu mengejarnya dengan cepat pasti kau bisa menemukannya”. Kata Paman itu.

“baiklah kalau begitu, terima kasih paman !”. Ucap Bawang Putih sambil berlari menyusuri sungai.

Hari semkain gelap, namun baju ibunya itu belum juga ia temukan, namun ketika itu ia melihat sebuah cahaya yang berasal dari gubuk dan Bawang Putih langsung menghampiri gubuk itu dan mengetuk pintunya.

“Permisi…!”. Ucap Bawang Putih.

Seorang wanita tuapun membukakan pintunya. Dan bertanya.

“Siapa kamu nak?”. Tanya sang nenek.

“Saya Bawang Putih nek, saya sedang mencari baju ibu saya yang tadi hanyut namun hari semakin malam. Bolehkah saya bermalam disini sehari saja?”. Ucap Bawang Putih.

“Boleh nak, apa baju itu warnanya merah?”. Ucap sang Nenek.

“Ya nek, apa nenek melihatnya?”. Tanya Bawang Putih.

“Ya tadi bajunya tersangkut di depan rumahku. Padahal aku sangat menyukai baju itu”. Ucap sang Nenek.

“baiklah aku akan memberikannya padamu, tapi kau harus menemaniku selama satu minggu disini. Sudah lama aku tidak ngobrol dengan siapapun, bagaimana?”. Tutur sang Nenek lagi.

Bawang Putihpun sejenak berikir, ia kasihan kepada sang nenek yang kesepian dan iapun merasa iba.

“baiklah nek, saya akan menemani nenek disini selama satu minggu, asalkan nenek tidak bosan padaku”. Ucap Bawang Putih.

Seminggupun sudah di laluinya dengan mengerjakan semua pekerjaan yang ada di rumah si nenek itu. Sang Nenekpun tentu saja sangat senang ditemani olehnya. Dan sang nenekpun memanggil bawang putih.

“Nak, kamu seminggu sudah menemaniku disini, kau anak yang sangat baik juga berbakti, aku sangat bahagia. Untuk itu kau bisa membawa baju ibumu ini pulang. Dan satu lagi, kau bisa memilih satu dari dua labu kuning ini untuk ku hadiahkan padamu!”. Ucap sang Nenek.

Awalnya Bawang Putih menolaknya namun sang Nenek memaksanya. Yang akhirnya Bawang Putih memilih labu yang paling kecil.

“Saya takut tidak kuat membawanya nek kalau saya membawa yang besar”. Ujar Bawang Putih.

Ketika ia sampai dirumah, iapun langsung memberikan bajunya ke ibunya. Dan ia langsung pergi ke dapur untuk membelah labu kuning tersebut. Ia kaget ketika labu itu terbuka karena didalamnya terdapat emas permata yang begitu banyak. Saking gembiranya ia berteriak dan memberitahukannya kepada ibu dan kakak tirinya itu. Namun ketika mereka melihat isi labu itu, bawang merah langsung merebut emas permata itu. Dan ibunya memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkan hadiah itu, dan iapun menceritakan dengan sejujurnya.

Mendengar cerita itu, merekapun berencana untuk melakukan hal yang sama, namun kali ini dilakukan oleh bawang merah. Singkat cerita bawang merahpun sampai di rumah sang Nenek dan sang nenek meminta dia untuk tinggal selama satu minggu. Namun berbeda dengan bawang putih, selama satu minggu itu ia hanya bermalas-malasan kalaupun ia bekerja tidak pernah bagus karena ia bekerjanya hanya asal-asalan. Setelah satu minggu, sang nenekpun membolehkan dia untuk pergi.

“Bukankah seharusnya nenek memberikanku labu sebagai hadiah Karenna aku sudah menemanimu selama satu minggu disini”. Ucap bawang merah

Sang nenekpun akhirnya terpaksa menyuruh bawang merah untuk memilih labu itu, dan iapun memilih labu paling besar lalu ia pergi tanpa ia mengucapkan terima kasih.

Bawang merahpun akhirnya tiba dirumah dan menemui ibunya. Mereka sangat gembira karena labu yang bawang merah dapatkan sngat besar. Karena mereka takut kalau bawang putih meminta bagian, merekapun menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Dengan tidak sabar, iapun membuka labunya namun bukanlah emas permata yang mereka dapatkan melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking dan yng lainnya. binatang itupun langsung menyerang bawang merah dan ibunya sampai mereka meninggal.

Dari cerita di atas dapat kita peti pesan moral, bahwa keserakahan akan menjadi bumerang pada diri kita sendiri. Kesabaran dan kesederhanaan akan mendatangkan kebahagiaan pada akhirnya nanti.

Jumat, 04 Desember 2015

KANCIL MENCURI TIMUN


Pada suatu pagi yang sangat cerah. Matahari pun bersinar dengan indah. Pak Tani tengah bersiap-siap pergi ke ladang dengan sangat gembira dengan memanggul pacul.

''Aku akan pergi ke ladang untuk memeriksa kebun timunku, mungkin saja besok sudah bisa dipanen.'' Kata Pak Tani.

Sesampainya di kebun timun Pak Tani sangat terkejut. Buah timun di kebunnya banyak yang rusak.

''Hah... siapa yang berani merusak buah timunku ini. Mengapa harus dirusak? Aku bukan petani yang pelit, jika ada orang yang mau timunku ambil saja. Tapi tidak untuk dirusak''.
''Pasti hewan yang merusak dan mencuri kebun mentimun ku adalah si Kancil''. Gumam Pak Tani. 
Dengan hati muram Pak Tani pulang ke rumah. Ia menduga-duga hewan apakah yang suka makan mentimun.

Dengan terus berpikir, Pak Tani akhirnya berhasil mencari akal untuk menjebak si Kancil dengan membuat orang-orangan yang di beri pelekat sangat kuat. Menjelang sore orang-orangan itu sudah selesai dibuat dan di bawa ketengah kebun timun untuk di pasang.

''Aku tahu kancil hewan yang sangat cerdik, dia bisa melakukan apa saja untuk mencuri timunku''.

Ternyata dugaan Pak Tani benar, malam harinya Kancil datang untuk mengambil mentimun. Melihat orangan-orangan yang dibuatoleh Pak Tani, kancil hanya tertawa tawa.

''Haha.. hanya orang-orangan, siapa takut?'', seru kancil.

Setelah makan timun. Kancil menghampiri orang-orangan yang dibuat Pak Tani, muncul lah sifat jail si Kancil, Ia memukul orang-orangan itu dengan kaki depannya. Kancil hanya melewati orang-orangan itu. Ia memakan timun yang muda-muda. Ternyata tak banyak timun yang di makan si Kancil. Hanya 3 buah timun ia sudah merasa kenyang. Ia juga tidak merusak timun yang lainnya.

''Aduh… kenapa melekat seperti ini? Kaki ku tidak dapat di gerakkan!'' Kancil sangat kaget.!

''Hei orang-orangan jelek. Lepaskan kakiku. Kalau tidak, akan kupukul lagi kau!'' seru kancil.

Kancil memukul orang-orangan itu dengan kaki yang satu lagi.

''Plak!''... kini kedua kakinya menempel erat pada baju orang-orangan itu.

Pelekat yang di pasang Pak Petani di baju orang-orangan itu sangat kuat. Kancil tak bisa melepaskan diri. Sekuat tenaga ia berusaha tetapi tidak berhasil. Semalaman Kancil menangis.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Pak Tani sudah datang.

''Ku tangkap kau Kancil. Dasar biang kerok. Kau boleh mengambil dan memakan timunku Cil. Tapi tidak untuk merusak buah yang lain.''

''Ampun Pak Tani. Bukan aku yang merusak timunmu, aku hanya makan 2-3 buah timun. Dan perutku sudah merasa sangat kenyang.'' Mohon si Kancil.

Pak Tani tidak percaya dengan perkataan si Kancil. Leher si Kancil di ikat dan di seret Pak Tani ke rumahnya.

''Kancil . Batu ini sangat kuat. Kau tak dapat meloloskan diri dari sini. Aku akan pergi sebentar ke pasar untuk membeli bumbu sate.'' Sesampainya di rumah Pak Tani, Kancil langsung diletakkan di dalam kurungan ayam.

''Ampunilah aku Pak Tani, jangan sate aku. Dagingku pahit dan tidak enak'' Si Kancil merengek meminta ampun.

Pada saat Pak Tani pergi ke pasar untuk membeli bumbu sate, ada seekor anjing yang merupakan peliharaan Pak Tani datang menghampiri kurungan si Kancil. Anjing hitam itu bernama Moomoo.

''Kenapa kau di kurung?'' Tanya si Moomoo.

''Apa kau tak tau Moo?'' Kancil membalas pertanyaan Si Moomoo anjing milik Pak Tani.

''Katakan ada apa sebenernya Cil?''

''Begini Moo, aku ini akan di jadikan menantu oleh Pak Tani. Mangkannya Pak Tani pergi ke pasar untuk membeli makanan yang lezat-lezat untukku calon menantunya.''

''Hah..? Kamu itu tidak pantas Cil, badan mu kecil. Lebih baik aku saja yang menjadi menantu Pak Tani. Aku sudah bertahun-tahun menjadi peliharaannya.'' jawab Moomoo tidak terima.

''Tapi Pak Tani sudah memilih aku Moo. Sudah sana pergilah kau Moo!'' Kata kancil.

Si Moomoo tiba-tiba menggerang marah, ''Cil, kalau kau tidak mau aku gantikan sekarang juga batu yang ada di atas kurangan itu akan aku dorong dan lehermu akan ku gigit sampai putus.'' Seru Moomoo.

''Wah.. Jangan gitu dong !'' Balas kancil

''Mau apa tidak?''

''Baik-baik aku turuti keinginanmu.''

''Selamat Moo, sebentar lagi kau akan menjadi menantu Pak Tani.'' Kata Kancil sambil berlari kencang. Si Moo mendorong batu hingga terjatuh, kurungan itu terbuka dan Kancil keluar dari kurungannya. Sedangkan Moomoo menggantikkan Kancil masuk ke dalam kurungan.

Sesaat kemudian Pak Tani datang. Ia sangat kaget melihat Kancil yang berada di kurungan berubah menjadi Moomoo anjing peliharannya.

''Hormat saya calon mertua.'' Kata anjing dengan gembira.

''Calon Mertua katamu? Hey kamu kemanakan si Kancil.'' Pak Tani bertanya dengan nada gusar.

''Sudah pergi ke hutan Pak Tani !'' jawab Moomoo.

''Kau sungguh-sungguh mau menjadi menantuku?'' tanya pak tani.

''Benar sekali tuan.'' jawab Si Moomoo dengan gembira.

''Sekarang keluarlah dari kurungan itu, lau duduklah yang manis dan pejamkan mata. Aku akan segera memanggil putriku didalam rumah.''

Ireng segera menuruti permintaan dari Pak Tani. Dia sangat gembira karena akhirnya dia bisa menjadi keluarga dari Pak Tani.

''Ini hadiah untukmu !'' teriak Pak Tani memukul kepala dan punggung si Anjing.

''Tungguuuuuu…! Bleg ! bleg !. ampuuuunnn..!''

Si Moomoo menjerit dan melarikkan diri. Dia baru sadar bahwa telah terjebak dalam tipu muslihat si Kancil. Ia sangat marah karena ditipu si Kancil. '' Awas kau Kancil jika nanti ketemu akan ku gigit kau!'' Moomoo yang sangat marah karena di tipu si Kancil. Seluruh badannya masih terasa sakit setelaah di pukul Pak Tani. Anjing itu terus berlari sangat kencang mengejar si Kancil. 

Kancil sudah mencoba berlari sekencang yang dia bisa. Namun kecepatan si Kancil memang belum bisa dibandingkan dengan Moomoo yang merupakan anjing pemburu, maka dalam beberapa saat Si Moomoo sudah bisa berada di belakang Kancil.

''Wah gawat. Moomoo sudah berada dibelakangku,'' kata Kancil dalam hati. ''Aku harus segera bersembunyi.''

Dari cerita di atas dapat diambil pesan moral, bahwa :
- Janganlah kita melakukan kejahatan seperti mencuri karena sepandai-pandainya kita menyembunyikan kejahatan pasti suatu saat akan ketahuan juga.
- Jangan mudah percaya dengan kelicikan. Sebelum bertindak berpikirlah yang matang, jangan sampai menyesal dikemudian hari seperti si Moomoo anjing milik Pak Tani.

Kamis, 03 Desember 2015

DONGENG SI KANCIL YANG SOMBONG DAN SIPUT YANG CERDIK

Pada suatu hari, kancil bertemu dengan siput di tepi sungai. Tanpa sengaja kancil bertemu dengan seeko siput yang juga sedang melitas di tepi sungai tersebut. Melihat siput merangkak dengan lambatnya, si kancil dengan sombong dan angkuhnya berkata.



“Hai siput, beranikah kamu lomba lari denganku ?”. Seru si kancil.
( ajakan tersebut terasa sangat mengejek, siput berpikir sebentar, lalu menjawab )


“Baiklah, aku terima ajakanmu dan jangan malu kalau nanti kamu sendiri yang kalah.” Jawab siput penuh percaya diri.


“Tidak bisa, masa jago lari sedunia mau dikalahkan olehmu, hai siput, si binatang perangkak nomor satu di dunia''. Ejek si kancil.


“Baiklah, ayo cepat kita tentukan harinya !” seru si kancil lagi.


“Bagaimana kalau hari minggu besok, agar banyak yang menonton.” Kata siput.


“Oke, aku setuju.” Jawab kancil.



Sambil menunggu hari yang telah ditentukan itu, siput mengatur taktik. Segera dia kumpulkan bangsa siput sebanyak-banyaknya. Dalam pertemuan itu, siput membakar semangat kawan-kawannya dan dengan geram mereka ingin mempermalukan kancil dihadapan umum. Dalam musyawarah itu, disepakatilah dengan suara bulat bahwa dalam lomba nanti setiap siput ditugaskan berdiri diantara rerumputan di pinggir kali. Diaturlah tempat mereka masing-masing. Bila kancil memanggil maka siput yang didepannya itu yang menjawab begitu seterusnya.

Sampailah saat yang ditunggu itu. Penonton pun sangat penuh. Para penonton datang dari semua penjuru hutan.



Kancil dan siput telah bersiap digaris start. Pemimpin lomba mengangkat bendera, tanda lomba di mulai. Kancil berlari sangat cepatnya. Semua tenaga dikeluarkannya. Tepuk tangan penonton kian menggema, memberi semangat kepada kancil. 
Setelah lari sekian kilometer, berhentilah si kancil. Sambil napas terengah-engah dia memanggil.



“Siput !” teriak si kancil.
“Ya, aku disini.” jawab siput.

Karena siput telah berada didepannya, kancilpun kembali lari sangat cepat sampai tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Kemudia dia pun memanggil kembali.

“Siput !” teriak kancil lagi.
“Ya, aku disini''. lag-lagi suara siput terdengar di depan kancil.

Berkali-kali selalu begitu. Sampai pada akhirnya kancil lunglai dan tak dapat berlari lagi. Menyerahlah sang kancil dan mengakui kekalahannya. Penonton terbengong-bengong.

Siput menyambut kemenangan itu dengan senyuman saja. Tidak ada loncatan kegirangan seperti pada umumnya pemenang lomba.

Dari cerita di atas dapat kita petik hikmah bahwa '' Jangan mudah meremehkan orang lain. Fisik bukan lah penentu kegagalan atau keberhasilan seeorang. Rasa percaya diri dan pikiran yang jernih/ cerdas/ cerdik lah yang membawa seeorang pada kesuksesan masa depannya.


DONGENG SI AYAM JAGO, ELANG, DAN JARUM EMAS

Pada zaman dahulu kala hiduplah seekor ayam jago dan seekor elang yang saling berteman akrab bahkan seperti saudara. Mereka senantiasa saling membnatu dan menolong satu sama lain.

Pada suatu hari,ketika si ayam jago pergi mencari makan di pinggir hutan,tiba - tiba seekor kucing hutan muncul dan ingin memangsanya. Si ayam jago pun berlari kencang sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri,tapi si kucing hutan tetap mengejarnya dengan gigih. Kucing hutan yang kelaparan itu tak mau kehilangan mangsa yang sudah di depan mata. Sedang si ayam jago berusaha berlari lebih cepat,karena dulu ayam tidak bisa terbang. Sama sekali tidak bisa terbang,hanya berjalan dan berlari di tanah.

Ayam jago semakin terdesak. Kecepatan larinya tidak sebanding dengan kecepan kucing hutan tersebut. Dalam keadaan seperti ini, tiba - tiba sang elang datang. Dia menyambar kucing hutan itu berkali-kali. Di patuk dan di cakar dengan paruh dan kukunya yang tajam. Ahirnya kucing hutan itupun lari kembali ke hutan dengan luka dan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"Waaahh.....Terimakasih elang sahabat ku,untung kau datang. Kalau tidak, mungkin aku sudah mati di mangsa oleh kucing hutan itu". Kata si ayam jago dengan nafas tersenggal-senggal karena kelelahan setelah berlari.

"Sama-sama kawan. Bukankah sebagai sahabat kita memang harus saling membantu". Kata elang dengan tersenyum ramah.

"Memang benar katamu...Tapi kan tak selamanya kamu bisa menolong aku...Yaa contohnya seperti hari ini, aku termasuk beruntung karena kau datang.
Andai saja tadi kau tidak ada, aku pasti sudah "tinggal nama"....".Kata ayam jago dengan wajah murung.

"Hei..Tenanglah kawan. Tak usah murung begitu. Mungkin ucapan mu memang benar. Andai saja aku bisa melakukan sesuatu untuk membuat mu bisa merasa tenang, pasti akan aku lakukan". Kata elang coba menghibur.

"Yah..Mungkin memang sudah takdir kawan. Aku ini cuma seekor ayam, takdir ku hanya bisa berjalan di atas tanah. Andai saja aku bisa terbang seperti mu, pasti tak ada lagi yang bisa mengganggu ku". Kata si ayam jago setengah mengeluh.

"Hmm..Kalau itu keinginan mu, mungkin aku bisa membantu". Jawab sang elang.

"Benarkah?. Bagaimana caranya?". Tanya si ayam jago bersemangat mendengar kabar gembira tersebut.

"Bangsa burung mempunyai sebuah benda pusaka berupa jarum emas. Jarum itu kami gunakan untuk menyulam sayap-sayap kami agar kami bisa terbang.
Tapi..Jarum itu tak bisa di pinjamkan pada semua orang, karena jarum itu adalah benda pusaka bangsa kami". Jawab sang elang.

"Wah benarkah?Apa kau juga tak bisa meminjamkanya pada ku?. Kita kan sahabat baik, masa kau tak percaya pada ku?". Tanya si ayam jago membujuk.

Elang mencoba berfikir dan membuat pertimbangan, tapi setelah ayam terus merengek dan membujuknya, akhirnya elang pun meminjamkan jarum emas itu pada si ayam jago.

"Nah gunakanlah dengan bijak. Jaga jarum emas ini baik-baik. Jangan sampai hilang!. Karena aku yang meminjamnya dari raja burung. Jika sampai ada apa-apa pada jarum ini, maka bangsa elang yang akan menanggung aib dan di salahkan oleh semua bangsa burung.
Dan pesan ku, setelah selesai kau pakai, simpanlah baik-baik sampai aku datang mengambilnya. Jangan kau pinjamkan pada siapapun tanpa seijin ku".Kata elang berpesan panjang lebar.

"Aku mengerti kawan. Aku berjanji akan memenuhi semua pesan mu. Jarum ini akan ku jaga baik-baik". Jawab si ayam jago.

"Baiklah kalau begitu. Jarum itu aku percayakan pada mu. Tiga hari lagi aku akan datang untuk mengambilnya kembali". Kata elang kemudian terbang tinggi ke cakrawala.

Setelah elang pergi, si ayam jagopun cepat-cepat menyulam sayapnya dengan jarum emas. Dia tak sabar untuk segera dapat terbang.
Baru setengah sayap yang di sulamnya, dia tak sabar untuk segera mencoba.
Diapun menaruh jarum emas itu di atas batu, kemudian dia mencoba terbang naik ke atas pagar.


"Yuhuuu..Ahirnya aku bisa terbang". Teriak ayam jago dengan bangganya. Walau hanya baru setinggi pagar, dia sudah sangat merasa bangga.

Tiba-tiba si ayam betina datang. Dia sangat heran dan takjub melihat ayam jago yang bisa naik di atas pagar.

"Hai ayam jago, bagaimana kau bisa naik setinggi itu?". Tanya si ayam betina penasaran.

"Aku terbang untuk naik ke sini". Kata ayam jago membanggakan diri pada ayam betina.

"Wah..Terbang?! Bagaimana bisa?". Tanya ayam betina semakin penasaran.

"Tentu saja bisa. Aku menyulam sayap ku dengan jarum emas yang aku pinjam dari elang sahabat ku". Jawab si ayam jago sambil terus mengepakkan sayapnya tanpa memperhatikan ayam betina.

"Wah..Hebat. Apakah aku boleh meminjamnya juga agar aku bisa terbang dan bertengger di samping mu".Kata ayam betina merayu.

"Wah..Tentu saja. Ambilah jarum itu di atas batu di sebelah mu. Lalu cepatlah terbang ke samping ku". Kata ayam jago dengan gembira. Dia telah lupa pada janjinya.

Si ayam betina pun segera menyulam sayapnya. Karena tak sabar ingin segera bisa terbang seperti si ayam jago, sebentar-sebentar dia terus mencoba terbang. Begitu dia lakukan berkali-kali.
Dan ahirnya, ayam betina pun bisa terbang ke atas pagar menyusul ayam jago.
Mereka berduapun sangat senang dan gembira sekali.

Setelah mereka puas bertengger, merekapun kembali turun untuk meneruskan menyulam agar bisa terbang sepenuhnya.

Tapi, jarum emas yang mereka gunakan telah hilang entah kemana. Mungkin karena kibasan sayap ayam betina tadi, jarum itu terpelanting. 

"Wah gawat..! Kau taruh dimana jarum emas tadi?". Tanya si ayam jago.

"Aku tak tahu, aku lupa menaruhnya..". Jawab ayam betina.

"Kalau sampai jarum itu hilang, elang pasti akan sangat marah pada ku. Ayo kita segera mencarinya sama-sama". Kata ayam jago panik.

Kemudian mereka berduapun segera mencari jarum itu. Mereka mencari di sekitar tempat itu. Mereka juga mencakar-cakar tanah berharap jarum itu mereka temukan, siapa tahu jarum itu terselip dan tertimbun ke dalam tanah.
Tapi sampai hari menjelang gelap, jarum itu tak mereka temukan.Dan pada esok hari mereka pun kembali meneruskan pencarian. Tapi sampai hari ketiga, jarum itu tetap tak di temukan.
Sampai pada ahirnya elang pun datang untuk mengambil jarum itu.

Setelah mendengar jarum itu telah hilang, sang elang sangat murka. Dia sangat marah karena ayam jago sahabatnya telah melanggar janji. Ayam jago telah meminjamkan jarum emas itu tanpa seijin sang elang, hingga membuat jarum itu kini hilang.

"Hai ayam..Beginikah kau balas semua kebaikan ku selama ini? Aku percaya pada mu, tapi kau menghianati kepercayaan ku itu.
Apakah kau tak sadar?.. karena kecerobohan mu, bangsa elang yang menanggung akibatnya. Kami akan di asingkan dan di kucilkan oleh bangsa burung. Pokoknya aku tak mau tahu, kau harus tanggung jawab. Selama kau belum menemukan jarum emas itu, anak cucu keturunan mu tidak akan aman dari ancaman bangsaku". Kata elang kemudian terbang dengan membawa amarah yang meluap-luap.

Dari kisah itulah yang menjadi penyebab elang selalu menyambar anak-anak ayam dan ayam juga selalu mencakar-cakar tanah ketika mereka mencari makan. Berharap mungkin mereka bisa menemukan jarum emas yang pernah mereka hilangkan. Dan kebiasaan itu terus berjalan sampai saat ini.

Dari cerita di atas, ada hikmah yang bisa kita petik.
''Jangan pernah menghiati kepercayaan yang di berikan kepada kita, karena itu akan membuat orang lain kecewa dan tak mempercayai kita lagi''. 
''Jangan pernah mengambil ataupun meminjamkan sesuatu tanpa seijin pemilik yang bersangkutan''.